Desa Kemlagi
Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto
Pahlawan Kini Semakin Kesepian, Perayaan 10 Nopember Pernah Meriah

https://kemlagi-mjkkab.desa.id/ - Pemerintah Desa Kemlagi secara masif telah mengajak warganya untuk memeriahkan Peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 2025 melalui kegiatan pemasangan bendera merah putih di depan masing-masing rumah dan hening cipta serentak mulai pukul 08.15 WIB.
Ajakan Pemerintah Desa Kemlagi ini lewat pengumuman langsung maupun secara daring melalui media sosial yang dimilikinya. Alhasil lumayan banyak warga memasang bendera merah putih, sementara untuk kegiatan hening cipta serentak dipimpin oleh Ketua Ta'mir Masjid Al-Hidayah Desa Kemlagi H. Yasin melalui toa masjid, yang ternyata diikuti juga oleh pengguna jalan, warga yang mendengarkan ajakan ketua ta'mir masjid dari masing-masing rumah.
Tidak sampai disitu, Pemdes Kemlagi sengaja mengajak anak-anak PSP PAUD Bhakti Pertiwi Desa Kemlagi (yang masih berusia 3 - 4 tahun) bersama guru dan orang tuanya untuk mengikuti ajakan hening cipta serentak guna mendoakan arwah para pahlawan di Balai Desa Kemlagi.
Memang benar apa yang ditulis oleh salah-satu sejarawan yang dimiliki Mojokerto Raya, mas Ayuhannafiq dalam akun FB Serpihan Catatan Ayuhannafiq dengan judul yang sama pada artikel ini.
Dan atas izin dari mas Ayuhannafiq, tulisan baliau ini akan kami tampilkan lagi melalui website Desa Kemlagi dengan tujuan agar kita dan anak cucu nanti bisa lebih semangat lagi dalam memperingati dan mendoakan para pahlawan, syukur-syukur kalau bisa kita meneruskan perjuangannya.
Baru saja tanggal 10 Nopember lewat dari kalender rumah kita. Hari itu rasanya sama dengan hari-hari lainnya, tidak ada bedanya. Padahal kita tahu hari itu adalah waktu bersejarah bagi bangsa kita. Dimana tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari besar nasional dengan sebutan Hari Pahlawan.
Nopember 1949 saat pertempuran dengan tentara Belanda sudah mulai mereda dengan adanya keinginan dua belah pihak untuk duduk di meja perundingan. Para pejuang Republik di Mojokerto yang posisinya ada di seputaran Kota Mojokerto ingin memperingati peristiwa pertempuran Surabaya lima tahun lewat. Hal yang dapat dimengerti karena banyak gerilyawan di Mojokerto berasal dari Surabaya. Mereka yang terpaksa mundur setelah Inggris menggempur habis-habisan Surabaya selama 3 minggu penuh.
Mayor Isa Idris, asal Surabaya yang ditunjuk sebagai Komandan KDM Mojokerto mencoba mewujudkan keinginan pejuang yang ingin memperingati peristiwa tersebut. Dia menghubungi Komandan pasukan Belanda, Overtse Keuning . Kedua orang komadan militer di Mojokerto saling berkirim urusan yang membahas permohonan agar para anggota TNI bisa mengadakan upacara di dalam Kota Mojokerto pada tanggal 10 Nopember 1949. Overtse Keuning mengijinkan dengan beberapa catatan, salah satunya adalah setelah upacara semua peserta keluar dari wilayah Mojokerto yang diklaim sebagai daerah pendudukan Belanda.
Kamis pagi 10 Nopember 1949 para pejuang yang akan melakukan upacara peringatan telah bersiap di desa Jabung Jatirejo, tempat yang digunakan oleh Mayor Isa Idris. Para peserta itu diangkut dengan kendaraan truk milik Belanda ke Taman Bahagia, sekarang TMP Gajah Mada, di Gatul. Tempat tersebut dipilih untuk menghormati para pejuang yang gugur dalam pertempuran dan dimakamkan disana.
Upacara sederhana dengan tabur bunga yang diawali dengan lagu Indonesia Raya sudah cukup sebagai penanda bahwa para pejuang yang gugur tidak dilupakan. Ternyata tidak hanya mereka yang berseragam TNI saja yang ikut upacara. Penduduk sipil yang mendengar adanya acara itu ikut datang dan merayakannya. Maka tidak heran acara sederhana di hari Kamis itu menjadi meriah dengan banyaknya orang yang datang. Sayangnya keinginan untuk melakukan pawai jalan kaki ditolak oleh militer Belanda.
Usai doa dan tabur bunga semua anggota TNI sesuai kesepakatan harus balik ke tempatnya semula. Mereka kembali naik truk yang mengantarnya ke desa Jabung. Sepanjang perjalanan mereka tidak henti-hentinya menyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk menarik perhatian orang di jalan yang belum tahu akan kegiatan tersebut.
Begitulah seterusnya setiap tahun dilakukan upacara serupa di Gatul, dimana sebuah Tugu Proklamasi telah berdiri sejak tahun 1947. Tugu yang hingga kini masih ada itu diresmikan pada 10 Nopember 1947 oleh R. Sudirman, Residen Surabaya. Monumen yang seolah lekat dengan pertempuran besar di Surabaya.
Kian tahun peringatan itu terus berkembang seperti pada tahun 1957. Atas upaya PDM (Pimpinan Daerah Militer) Mojokerto telah terbentuk panitia hari 10 Nopember. Dalam Koran Pewarta Soerabaja, 7 Nopember 1957, diberitakan adanya rapat yang membahas pembentukan panitia tersebut. Disebutkan bahwa dalam rapat di hari Senin malam itu menetapkan Kapten Tampubolon sebagai ketua panitia peringatan 10 Nopember. Dalam jajaran panitia duduk semua unsur organisasi pemuda yang ada di Mojokerto, Wakil ketua I diserahkan pada Pemuda Demokrat dan WK II pada perwakilan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Jajaran sekretaris/penulis diberikan pada perwakilan Pemuda Rakjat (PR) dan Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Perwakilan dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Gerakan Pemuda Sosialis (GPS) mengisi jabatan bendahara panitia.
Bisa diperkirakan dengan adanya panitia yang melibatkan semua unsur kemasyarakatan pemuda pasti peringatan tahun itu kian meriah. Tidak hanya sekedar upacara bendera saja, acara penyerta bisa berlangsung setelahnya. Sangat mungkin ada kegiatan gerak jalan seperti apa yang dilakukan di Jombang pada tahun yang sama. Bisa jadi daerah di sekitar Surabaya juga menggelar kegiatan peringatan 10 Nopember juga.
Perayaan lebih besar terjadi pada tahun 1959 dimana kala itu keluar Keputusan Presiden Pada 16 Desember 1959, tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari nasional melalui Keppres No. 316 Tahun 1959. Dengan demikian sebutan Hari Pahlawan mulai dipakai untuk mengganti peringatan 10 Nopember yang sebelumnya digunakan. Ditambah lagi dengan adanya monumen Tugu Pahlawan di Surabaya semakin menguatkan peristiwa pertempuran Surabaya 1945.
Semakin jauh peringatan Hari Pahlawan bukannya tambah meriah, malah kian pudar dari ingatan kita. Lihat saja kegiatan Garak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya yang sulit mendapatkan peserta, sedangkan pada masa lalu acara itu mampu menyedot peserta hingga sampai Jakarta. Kini tidak ada lagi kibaran bendera di depan rumah penduduk pun juga dengan instansi pemerintah yang hanya memperingati dengan upacara seadanya.
Semoga di alam sana para pejuang dan syuhada yang telah memperjuangkan kemerdekaan tidak kecewa pada generasi penerusnya.
Sumber Serpihan Catatan Ayuhannafiq
Kegiatan hening cipta serentak Desa Kemlagi juga bisa disimak di kanal YouTube Desa Kemlagi
Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi



M.rasyid
10 Februari 2026 20:10:04
Lanjut pak Supri semoga RT.03 RW.03 semakin mantap...