Desa Kemlagi
Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto
Mengenal Lebih Dekat Sejarah Lebaran Ketupat di Durenan Trenggalek

https://kemlagi-mjkkab.desa.id/ - Hari ini Senin tanggal 7 April 2025, kita dari Bumi Majapahit Mojokerto sengaja bersilaturrahim ke daerah yang dipimpin oleh Mas Ipin atau Mochamad Nur Arifin selaku Bupati Trenggalek untuk masa kepemimpinan yang kedua atau periode tahun 2025 sampai dengan tahun 2030 dengan wakilnya yakni Syah Mohamad Natanegara.
Hari ini kita melihat dari dekat sebuah tradisi di daerah Durenan yang syarat makna, baik dari segi agama maupun kemasyarakatan.
Segi agama bahwa sebagaimana sunah rosul kita sebagai umat Islam disunahkan untuk puasa syawal yang dimulai sehari setelah Hari Raya Idul Fitri selama enam hari.
Dan dari segi kemasyarakatan bahwa kegiatan ini akan terwujud adanya silaturrahim diantara semua elemen masyarakat serta makna filosofi dari ketupat itu sendiri yang melambangkan atau simbol saling memaafkan, persatuan dan kesatuan.
Tradisi Lebaran Ketupat di Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, sudah ada sejak lebih dari 200 tahun. Tradisi ini awalnya hanya dilakukan oleh keluarga pemuka agama Kyai Abdul Masyir atau lebih dikenal dengan Mbah Mesir, tetapi kemudian diikuti oleh masyarakat sekitar.
Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan, Trenggalek, Kiai Haji Abdul Fattah Muin mengatakan, tradisi kupatan di Durenan tetap dijaga dan sekarang sudah meluas. Berbeda dengan wilayah lain yang banyak mengadakan hiburan sebagai acara utama.
"Sudah 200 tahun lebih tradisi kupatan ini, kalau sini pembeda dengan lainnya yakni niatnya silaturahim yang tidak bisa ditiru," ujar Kiai Abdul Fattah Muin.
Menurutnya, kupatan di sini diperingati lebih dari 200 tahun yang lalu. Mulai zaman kakeknya, dahulu cuma satu rumah dan merembet 3 rumah dari keluarga pondok.
Hingga akhirnya, seperti sekarang ini sudah meluas ke berbagai desa se-Kecamatan Durenan, bahkan Trenggalek.
Selain itu, masyarakat sudah mengetahui jika selama hari raya pertama sampai keenam tidak ada yang silaturahim. Pasalnya, sudah mafhum adanya menerima tamu sewaktu hari raya ketupat h+7.
"Masyarakat kalau belum kupatan kemari umumnya sungkan silaturahim. Karena umumnya keluarga di sini puasa semuanya," pungkas Kiai Haji Abdul Fattah Muin.
Asal Usul Tradisi
Tradisi ini diawali oleh Mbah Mesir atau Kyai Abdul Masir. Tradisi Kupatan dikenalkan oleh Mbah Mesir atau Kyai Abdul Masir.
Keturunan dari Kyai Abdul Masir saat ini mengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Ulum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.
Tradisi ini awalnya hanya digelar di lingkungan Ponpes untuk merayakan lebaran setelah enam hari Puasa Syawal usai Idul Fitri.
Tradisi ini awalnya hanya dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Babul Ulum. Seiring waktu, tradisi ini meluas ke berbagai desa di Kecamatan Durenan, bahkan Trenggalek serta wilayah lain misalnya Tulungagung.
Cara Pelaksanaan
Tradisi ini digelar seminggu setelah Idulfitri.
Diawali dengan arak-arakan tumpeng ketupat dari rumah Kepala Desa Durenan menuju Ponpes Babul Ulum
Tahun 2025 Arak-Arakan Tumpeng Ditiadakan.
Namun informasi yang kita dapat bahwa arak-arakan tumpeng dalam rangka perayaan Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek tahun ini ditiadakan.
Hal ini karena anggaran yang biasanya digunakan untuk acara tahunan tersebut terdampak efisiensi.
Kepala Desa Durenan, Imam Syafii mengatakan keputusan tersebut telah dimusyawarahkan bersama terutama dengan kepanitiaan perayaan lebaran ketupat.
"Dengan pertimbangan adanya efisiensi anggaran dan ekonomi masyarakat yang lesu maka perayaan arak-arakan lebaran ketupat ditiadakan," kata Kepala Desa Durenan, Imam Syafii
Walaupun arak-arakan ditiadakan, Imam memastikan tradisi silaturahmi ke tokoh agama di pondok pesantren dan juga sanak saudara tetap berjalan.
Untuk itu, tidak adanya arak-arakan lebaran ketupat sebenarnya tidak menjadi masalah besar karena tradisi utama dari lebaran ketupat adalah silaturahmi tersebut.
Jika sebelum adanya efisiensi anggaran di Ponpes, digelar doa bersama sebelum tumpeng ketupat diarak menuju lapangan Kecamatan Durenan. Di lapangan, gunungan ketupat diperebutkan oleh masyarakat.
Makna Tradisi
Tradisi ini menjadi magnet bagi masyarakat Trenggalek dan luar daerah, seperti kita yang dari Bumi Majapahit Mojokerto.
Masyarakat yang berkunjung ke Durenan saat kupatan murni karena ingin bersilaturahim. Ketupat beralih dari sekadar makanan daerah menjadi simbol pengampunan, persatuan, dan kesatuan.
Suasana Lebaran Ketupat di Durenan Trenggalek hari Senin 7 April 2025 bisa disimak di kanal YouTube ini
Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi



M.rasyid
10 Februari 2026 20:10:04
Lanjut pak Supri semoga RT.03 RW.03 semakin mantap...